Loading
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan

30 Maret, 2011

Jangan Buru-buru Masukkan Anak Autis ke Sekolah

Hampir semua orangtua menginginkan anaknya bisa baca tulis dan memiliki kemampuan akademis yang tinggi. Tapi bagi anak autis, jangan buru-buru memasukkan ke sekolah karena yang terpenting adalah melatih anak autis menjadi mandiri.

"Jangan terpaku pada baca tulis atau akademik, yang terpenting untuk anak autis adalah bisa mandiri," jelas

Gayatri Pamoedji, SE, MHc, Ketua Masyarakat Peduli Autis Indonesia (MPATI), dalam acara Media Briefing Peluncuran Komik Autisme Pertama di Indonesia di Rumah MPATI, Jakarta, Rabu (30/3/2011).

Menurut Gayatri, banyak orangtua yang kewalahan mengurusi anaknya yang autis kemudian buru-buru menyerahkan tanggung jawab kepada sekolah. Padahal hal itu tidak dapat membuat anak autis menjadi mandiri, tapi justru membuat guru atau teman-temannya kewalahan.

Setidaknya, lanjut Gayatri, bila ingin memasukkan anak ke sekolah ada beberapa kesiapan yang harus dimiliki anak autis, yaitu:

1. Patuh
2. Mampu memperkenalkan nama di depan kelas
3. Berbaris
4. Duduk bersila di lantai
5. Makan dengan bantuan yang minimal
6. Minum dengan botol air minum
7. Ke toilet
8. Berjalan bergandengan dengan anak lain
9. Mampu minta tolong guru bila dalam kesulitan


Menurut Gayatri, suksesnya penanganan anak autis sangat bergantung dari tiga pilar utama penanganan autisme, yaitu diagnosa tepat, pendidikan tepat dan dukungan kuat.

"Jangan melulu pikirkan akademis tapi tentukan bakat anak. Jika anak sudah bisa mandiri dan dilatih bakatnya, maka kemungkinan bakat itu bisa menjadi peluang buat dia untuk mencari nafkah," jelas Gayatri yang juga ibu dari anak autis.

Gayatri juga menjelaskan bahwa orangtua tidak perlu buru-buru menjalan terapi autisme yang mahal-mahal, karena kunci utama untuk terapi autisme adalah membuat anak mampu berkomunikasi.

"Boleh terapi yang mahal seperti terapi lumba-lumba atau apalah itu, tapi setelah tiga terapi dasar autisme sudah bisa dijalani. Terapi seperti lumba-lumba itu adalah terapi tambahan dan berfungsi untuk membuat anak relaksasi bukan menjadi mandiri," jelas Gayatri.

Tiga terapi dasar autisme yang dimaksudkan adalah sebagai berikut:

1. Terapi perilaku (Applied Behavioral Analysis), mengajarkan anak agar patuh.
2. Terapi okupasi, untuk melatih kemampuan motorik halus atau kemampuan untuk melakukan sesuatu dengan otot-otot kecil yang ada di dalam tangan, misalnya menulis, mengancing baju, memegang sendok, dll.
3. Terapi wicara


"Jika ketiga terapi ini sudah bisa dipenuhi anak, maka boleh deh mencoba terapi relaksasi yang agak mahal seperti terapi lumba-lumba. Tapi kalau anak belum bisa bicara, masa iya mau diterapi lumba-lumba, memangnya lumba-lumba bisa mengajak anak bicara. Terapi lumba-lumba berfungsi untuk membuat anak lebih rileks. Bila orangtua tidak punya banyak biaya, maka cukup lakukan tiga terapi dasar itu yang bisa juga dilakukan orangtuanya sendiri tanpa banyak mengeluarkan biaya," jelas Gayatri.

Gayatri menjelaskan memberikan terapi yang tepat ini termasuk dalam pilar pendidikan yang tepat. Jika anak sudah diajarkan tiga terapi dasar ini, maka anak bisa lebih siap dimasukkan ke sekolah.
Dari : Detik.com
Selengkapnya.....

Jika 2 dari 7 Pertanyaan Ini Dijawab Tidak = Anak Berisiko Autis

Banyak orangtua yang tidak menyadari atau tidak mau mengakui bahwa anaknya menyandang autis. Padahal bila autis dideteksi secara dini, maka bisa membuat peluang anak autis untuk mandiri lebih besar. Setidaknya ada 7 ciri utama autisme.

Diperkirakan sekitar 67

juta orang di dunia menyandang autis. Autisme diyakini sebagai gangguan perkembangan serius yang meningkat paling pesat di dunia.

Hingga kini, tidak diketahui secara pasti penyebab
penyakit tersebut dan belum ada obat yang dapat menyembuhkannya. Namun, deteksi dan penanganan dini akan membantu perbaikan perkembangan anak penyandang autis.

"Dari studi lebih dari 20 tahun yang dilakukan Robins D dkk dalam 'The Modified Checklist for Autism in Toodlers, Journal of Autism and Development Disorders' ada 7 checklist yang bisa digunakan untuk mendeteksi autis secara dini," jelas Gayatri Pamoedji, SE, MHc, Ketua Masyarakat Peduli Autis Indonesia (MPATI), dalam acara Media Briefing Peluncuran Komik Autisme Pertama di Indonesia di Rumah MPATI, Jakarta, Rabu (30/3/2011).

Gayatri menyampaikan 7 ciri utama untuk mendeteksi anak autisme, yaitu:

1. Apakah anak Anda memiliki rasa tertarik pada anak-anak lain?
2. Apakah anak Anda pernah menggunakan telunjuk untuk menunjukkan rasa tertariknya pada sesuatu?
3. Apakah anak Anda menatap mata Anda lebih dari 1 atau 2 detik?
4. Apakah anak Anda meniru Anda? Misalnya, bila Anda membuat raut wajah tertentu, apakah anak Anda menirunya?
5. Apakah anak Anda memberi reaksi bila namanya dipanggil?
6. Bila Anda menunjuk pada sebuah mainan di sisi lain ruangan, apakah anak Anda melihat pada mainan tersebut?
7. Apakah anak Anda pernah bermain 'sandiwara' misalnya berpura-pura berbicara di telepon atau berpura-pura menyuapi boneka?


Seorang anak berpeluang menyandang autis jika minimal 2 dari pertanyaaan diatas dijawab tidak.

"Tidak semua anak yang berpeluang menyandang autis memenuhi kriteria autis. 7 ciri utama ini digunakan agar orangtua dan guru waspada untuk segera memeriksa dan mendiagnosa anak yang berpeluang autis kepada dokter terdekat," jelas Gayatri.

Menurutnya, Modified Checklist for Autism in Toodlers bisa digunakan untuk mendeteksi gejala autis untuk anak usia 18 bulan atau sebelum 3 tahun.

"Karena gejala autisme biasanya tampak sebelum anak mencapai usia tiga tahun," lanjut Gayatri yang juga seorang ibu dari remaja penyandang autis.

Menurutnya, bila orangtua sudah bisa mendeteksi gejala autisme secara dini maka mereka akan memiliki peluang yang semakin besar untuk membuat anaknya menjadi mandiri.

"Yang penting membuat anak mandiri dan jauhkan mitos-mitos yang salah tentang autis. Punya anak autis memang berat tapi bukan akhir dari segalanya. Setipis apapun, harapan itu pasti ada," tegas Gayatri.
Dari :detik.com
Selengkapnya.....

03 November, 2010

Penyebab Kulit Kering

Kulit kering merupakan masalah yang sering dihadapi banyak orang, khususnya ketika cuaca dingin dimana udara menjadi kering. Udara kering ini menyebabkan kelembaban kulit menghilang, selanjutnya kulit menjadi pecah dan retak-retak. Daerah yang merekah dan retak-retak dapat mengalami iritasi dan terasa gatal. Ruam kulit kering kadang-kadang berupa bercak-bercak kulit berbentuk

bundar, yang menyerupai penyakit jamur kulit (kadas).

Image

Bagaimanakah pengobatan Kulit Kering ?

Pengobatan dilakukan dengan cara melumasi kulit. Tujuannya untuk memulihkan kelembaban kulit. Air akan melembabkan kulit anda dengan segera, namun kelembaban ini cepat hilang oleh penguapan. Lotion, cream dan salep yang memberikan lapisan pembungkus akan mencegah penguapan air.

Menggunakan minyak mandi ( oil bath ) adalah cara yang paling efektif untuk mencegah hilangnya kelembaban kulit. Anda dapat mengoleskan minyak mandi ke kulit atau menambahkan langsung ke air mandi.

Untuk menghindari perasaan berminyak, gunakanlah minyak sedikit saja. Satu sendok teh cukup untuk seluruh badan rata-rata orang dewasa. Bila anda menyukai menggunakan minyak mandi di dalam bak, tambahkan kira-kira satu sendok makan penuh ke dalam air mandi dan berendam selama 10 - 20 menit. Jangan memakai sabun, karena badan anda sudah cukup bersih dengan berendam di dalam bak yang berisi campuran minyak dan air. Sesudah mandi, keringkanlah badan anda dengan handuk, dengan cara ditutul-tutul secara lembut agar minyak mandi yang tertinggal di kulit masih cukup untuk mencegah kehilangan kelembaban kulit anda.

Bila tidak suka memakai minyak mandi, anda dapat menggunakan cream pelembab, lotion pelumas, minyak parafin atau vaselin murni.

Setiap pelumas paling baik dioleskan di kulit setelah kulit dibasahi terlebih dahulu dengan air sehingga air akan terperangkap di bawahnya. Hal ini akan menjaga kelembaban kulit anda.
Selengkapnya.....